Sunday, 24 January 2016

UNTITLED

       Hidup di dunia ini memang bukan keinginanku. Tapi, ini adalah takdirku. Setiap detik waktu yang berjalan, setiap detik itu juga umurku terus bertambah. Jika boleh memilih, aku ingin tetap menjadi seorang anak kecil yang hanya mengetahui berbagai macam permainan. Yang hanya akan mengalami sakit bila ia terjatuh. Yang hanya akan menangis saat keinginannya tidak dipenuhi. Yang hanya tau lingkup keluarga saja. Dan tidak mengenal dunia luar yang sangat mengerikan. Kini, aku telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang baru menginjakan kaki di bangku sekolah menengah atas. Aku berhasil tumbuh menjadi seorang gadis yang tegar dan kuat. Aku tumbuh menjadi seorang gadis dengan segala kelebihan dan kekurangan serta pemikiran yang sangat amat dewasa. Bukan berniat untuk membanggakan diriku. Hanya saja ini memang faktanya.
      Enam belas tahun sudah aku berada di dunia ini. Pahit manis kehidupan telah aku cicipi. Walau aku tahu, gadis seusiaku belum sepenuhnya mengerti tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Semenjak kecil, aku tidak pernah dimanja dengan materi, aku justru dimanja dengan kasih sayang yang melimpah dari orang tuaku. Hingga saat ini, didikan itu masih terus diterapkan. Tapi tak apa. Karena aku juga tau, mereka tidak ingin aku menjadi seorang yang manja, menjadi seorang yang gila akan materi nantinya. Materi tidak selalu menjamin akan bahagia. Kasih sayang lah yang akan menuntun kita bahagia walau dengan materi yang tak seberapa.. Aku tidak pernah mengeluh selama ini, tapi untuk kali ini, izinkan aku untuk berkeluh kesah. Aku sudah sangat lelah saat ini. Klimaks dari semua rasa sakit yang aku tahan sejak dulu. Mungkin sakit yang ku alami belum seberapa di bandingkan yang mamaku alami selama ini. Tapi kehidupanku saat ini berubah drastis. Kehidupanku kini berbanding terbalik. Kasih sayang itu kini hilang. Kasih sayang itu kini sudah tak lagi ku rasakan. Perbincangan hangat itu kini sudah tidak lagi ada. Pelukan menenangkan itu kini lenyap entah kemana. Kini, tak ada lagi tangan lembut yang mengusap air mataku saat aku menangis. Tak ada tangan kokoh yang memelukku saat aku rapuh. Kini aku sendiri. Benar-benar sendiri. Aku tau, yang membuat seseorang itu kuat adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain. Bukan sahabat. Bahkan bukan saudara ataupun keluarga. Sesetia apapun mereka pada kita. Sesayang apapun mereka sama kita. Mereka bisa saja pergi saat kita terjatuh. Saat kita berada di posisi terburuk kita. Dan saat itulah, hanya diri kita sendiri yang bisa menguatkan kita. Kita memang dijadikan sebagai makhluk sosial, tapi pada hakikatnya kita diciptakan sebagai individu alias sendiri. Kesimpulannya, semua yang terjadi di hidup kita, itu adalah kehendak kita sendiri.

     Ditambah lagi masa SMA ku berlalu dengan cepat. Tak pernah terbayang jika kehidupanku di SMA sangat berbanding terbalik saat di SMP. Aku tidak menemukan kebahagiaan di sekolahku ini. Bukankah seharusnya sekolah itu menjadi tempat yang nyaman bagi para penghuninya? Sekolah itu rumah kedua kan? Tapi mengapa aku tak merasakan itu semua? Disini, di tempat aku saat ini menuntut ilmu untuk masa depanku. Justru aku merasa tersiksa. Batinku selalu menjerit melakukan pemberontakan karena aku yang terlalu sabar. Butuh ribuan topeng jika aku tengah berada disini. Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku tidak mempunyai ruang yang cukup untuk aku bergerak. Jangankan bergerak, bahkan bernapas pun rasanya sangat sulit. Sesak. Itu yang aku rasakan disini.

No comments:

Post a Comment

Hallo, Apa Kabar?

 Sudah sejak lama dari terakhir aku menulis disini. Padahal setiap hari, aku selalu menulis dalam sepi. Apa kabar kalian? Aku harap kalian s...