Hidup
di dunia ini memang bukan keinginanku. Tapi, ini adalah takdirku. Setiap detik
waktu yang berjalan, setiap detik itu juga umurku terus bertambah. Jika boleh
memilih, aku ingin tetap menjadi seorang anak kecil yang hanya mengetahui
berbagai macam permainan. Yang hanya akan mengalami sakit bila ia terjatuh.
Yang hanya akan menangis saat keinginannya tidak dipenuhi. Yang hanya tau
lingkup keluarga saja. Dan tidak mengenal dunia luar yang sangat mengerikan.
Kini, aku telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang baru menginjakan kaki
di bangku sekolah menengah atas. Aku berhasil tumbuh menjadi seorang gadis yang
tegar dan kuat. Aku tumbuh menjadi seorang gadis dengan segala kelebihan dan
kekurangan serta pemikiran yang sangat amat dewasa. Bukan berniat untuk
membanggakan diriku. Hanya saja ini memang faktanya.
Enam
belas tahun sudah aku berada di dunia ini. Pahit manis kehidupan telah aku
cicipi. Walau aku tahu, gadis seusiaku belum sepenuhnya mengerti tentang arti
kehidupan yang sebenarnya. Semenjak kecil, aku tidak pernah dimanja dengan
materi, aku justru dimanja dengan kasih sayang yang melimpah dari orang tuaku. Hingga
saat ini, didikan itu masih terus diterapkan. Tapi tak apa. Karena aku juga
tau, mereka tidak ingin aku menjadi seorang yang manja, menjadi seorang yang
gila akan materi nantinya. Materi tidak selalu menjamin akan bahagia. Kasih
sayang lah yang akan menuntun kita bahagia walau dengan materi yang tak
seberapa.. Aku tidak pernah mengeluh selama ini, tapi untuk kali ini, izinkan
aku untuk berkeluh kesah. Aku sudah sangat lelah saat ini. Klimaks dari semua
rasa sakit yang aku tahan sejak dulu. Mungkin sakit yang ku alami belum
seberapa di bandingkan yang mamaku alami selama ini. Tapi kehidupanku saat ini
berubah drastis. Kehidupanku kini berbanding terbalik. Kasih sayang itu kini
hilang. Kasih sayang itu kini sudah tak lagi ku rasakan. Perbincangan hangat
itu kini sudah tidak lagi ada. Pelukan menenangkan itu kini lenyap entah
kemana. Kini, tak ada lagi tangan lembut yang mengusap air mataku saat aku
menangis. Tak ada tangan kokoh yang memelukku saat aku rapuh. Kini aku sendiri.
Benar-benar sendiri. Aku tau, yang membuat seseorang itu kuat adalah dirinya
sendiri. Bukan orang lain. Bukan sahabat. Bahkan bukan saudara ataupun
keluarga. Sesetia apapun mereka pada kita. Sesayang apapun mereka sama kita.
Mereka bisa saja pergi saat kita terjatuh. Saat kita berada di posisi terburuk
kita. Dan saat itulah, hanya diri kita sendiri yang bisa menguatkan kita. Kita
memang dijadikan sebagai makhluk sosial, tapi pada hakikatnya kita diciptakan
sebagai individu alias sendiri. Kesimpulannya, semua yang terjadi di hidup
kita, itu adalah kehendak kita sendiri.
Ditambah
lagi masa SMA ku berlalu dengan cepat. Tak pernah terbayang jika kehidupanku di
SMA sangat berbanding terbalik saat di SMP. Aku tidak menemukan kebahagiaan di
sekolahku ini. Bukankah seharusnya sekolah itu menjadi tempat yang nyaman bagi
para penghuninya? Sekolah itu rumah kedua kan? Tapi mengapa aku tak merasakan
itu semua? Disini, di tempat aku saat ini menuntut ilmu untuk masa depanku.
Justru aku merasa tersiksa. Batinku selalu menjerit melakukan pemberontakan
karena aku yang terlalu sabar. Butuh ribuan topeng jika aku tengah berada
disini. Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku tidak mempunyai ruang yang cukup
untuk aku bergerak. Jangankan bergerak, bahkan bernapas pun rasanya sangat
sulit. Sesak. Itu yang aku rasakan disini.
No comments:
Post a Comment