A.
Terbentuknya
Kerajaan Singhasari
Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok
pada tahun 1222. Lokasi Kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah
Singosari, Kabupaten Malang. Dan merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan
Majapahit (1293 M – awal abad ke 6 M). Nama resmi Kerajaan Singosari sendiri
sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel.
Menurut Kitab Nagarakretagama, ketika pertama kali
didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Seperti yang
tertulis pula pada Prasasti Kudadu.Menurut Kitab Pararaton, Tumapel semula
hanya sebuah daerah bawahanKerajaan Kadiri/Kediri. Yang menjabat sebagai akuwu
(setara jabatan Camat jaman sekarang) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung.
Ia mati dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri yang bernama
Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok juga yang mengawini istri
Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian berniat melepaskan
Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kediri.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara
Kertajaya (Raja Kediri) melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan
diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi Raja pertama Tumapel
bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kerajaan Kediri meletus di
desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok.
1.
Bidang Agama
Dalam bidang agama, Singhasari masa Kertanagara
memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha aliran
Tantrayana. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering
juga disebut Bhatara Siwa Buda. Menurut Nagarakretagama,
Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, Itu sebabnya
Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang
bebas dari segala dosa. Bahkan, salah satu ritual agamanya adalah berpesta
minuman keras.
2.
Bidang Politik dan Pemerintahan
Ada
dua versi yang menyebutkan silsilah kerajaan Singasari alias Tumapel ini. Versi pertama adalah versi Pararaton yang
informasinya didapat dari Prasasti Kudadu. Pararaton menyebutkan Ken Arok
adalah pendiri Kerajaan Singasari yang digantikan oleh Anusapati (1247–1249 M).
Anusapati diganti oleh Tohjaya (1249–1250 M), yang diteruskan oleh Ranggawuni
alias Wisnuwardhana (1250–1272 M). Terakhir adalah Kertanegara yang memerintah
sejak 1272 hingga 1292 M. Versi Negarakretagama, raja pertama Kerajaan Singasari adalah Rangga
Rajasa Sang Girinathapura (1222–1227 M). Selanjutnya adalah Anusapati, yang
dilanjutkan Wisnuwardhana (1248–1254 M). Terakhir adalah Kertanagara (1254–1292
M). Data ini didapat dari prasasti Mula Malurung
Politik Dalam
Negeri Kerajaan Singhasari
ü Mengadakan penggantian pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata
digantikan oleh Aragani.
ü Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya seperti mengangkat putra
Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya.
ü Memperkuat angkatan perang guna meningkatkan kemanan dan ketertiban dalam
negeri.
Politik
Luar Negeri Kerajaan Singhasari:
Ø Melaksanakan Ekspedisi Pamalayu untuk menguasai Kerajaan melayu serta melemahkan
posisi Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.
Ø Menguasai Bali.
Ø Menguasai Jawa Barat.
Ø Menguasai Malaka dan Kalimantan.
Ø Menjalain persahabatan dengan Raja Campa yang bernama Jayasihawarman
Kebijakan-kebijakan
Kerajaan Singhasari
1. Kebijakan dalam
negeri
v Pergantian
pejabat kerajaan, bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak.
v Memelihara
keamanan dan melakukan politik perkawinan. Tujuannya menciptakan kerukunan dan
politik yang stabil.
2. Kebijakan
Luar Negeri
v Menggalang
persatuan ‘Nusantara’ dengan mengutus ekspedisi tentara Pamalayu ke Kerajaan
Melayu (Jambi). Mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang.
v Menggalang
kerjasama dengan kerajaan lain. Contohnya menjalin persekutuan dengan kerajaan
Campa.
Raja-Raja yang Pernah
Memerintah Kerajaan Singhasari
I.
Ken Arok (1222–1227)
Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari
dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai
raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti
Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah
selama lima tahun (1222–1227). Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang
suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam
bangunan Siwa– Buddha.
II.
Anusapati (1227–1248)
Dengan
meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati.
Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan
pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.
Peristiwa
kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken
Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam
sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo)
untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan
ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang
dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah
Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.
III.
Tohjoyo (1248)
Dengan
meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo.
Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati
yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan
Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo
dan kemudian menduduki singgasana
IV.
Ranggawuni (1248–1268)
Ranggawuni
naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya
Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi
kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan
Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.
Pada
tahun 1254, Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai
yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di
Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan
di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai
Siwa.
V.
Kertanegara (1268-1292)
Kertanegara
adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk
menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri
Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga
orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i
sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti
pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan
oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan
gelar Aria Wiaraja.
Setelah
Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain.
Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi
Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan
mengirimkan patung Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah raja Kertanegara.
Tujuannya untuk menguasai Selat Malaka. Selain itu juga menaklukkan Pahang,
Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga
menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa, dengan tujuan untuk menahan
perluasan kekuasaan Kublai Khan dari Dinasti Mongol. Kublai Khan menuntut
rajaraja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang
dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai utusannya yang bernama Mengki.
Tindakan Kertanegara ini membuat Kublai Khan marah besar dan bermaksud
menghukumnya dengan mengirikan pasukannya ke Jawa.
Mengetahui sebagian besar
pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol, maka Jayakatwang
menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Jayakatwang adalah keturunan
Kertajaya - Raja terakhir Kerajaan Kediri. Serangan dilancarakan oleh
Jayakatwang dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan
dan dari arah selatan merupakan pasukan inti. Pasukan Kediri dari arah selatan
dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan
Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanagera beserta
pembesarpembesar istana tewas dalam serangan tersebut. Raden Wijaya (menantu
Kertanegara) berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta
perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja (Buapati Sumenep). Atas bantuan
Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada
Jayakatwang serta diberikan sebidang tanah yang bernama Tanah Terik yang
nantinya menjadi asal usul Kerajaan Majapahit.
Dengan gugurnya
Kertanegara pada tahun 1292, Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini
berarti berakhirlah kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang
dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bairawa) di
Candi Singasari. Sedangkan arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog,
yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.
3.
Bidang Sosial dan Ekonomi
Dari segi sosial, kehidupan masyarakat Singasari mengalami masa naik turun.
Ketika Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel, dia berusaha meningkatkan kehidupan
masyarakatnya. Banyak daerah-daerah yang bergabung dengan Tumapel. Namun pada pemerintahan
Anusapati, kehidupan sosial masyarakat kurang mendapat perhatian karena ia
larut dalam kegemarannya menyabung ayam. Pada masa Wisnuwardhana kehidupan
sosial masyarakatnya mulai diatur rapi. Dan pada masa Kertanegara, ia
meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya. Upaya yang ditempuh Raja
Kertanegara dapat dilihat dari pelaksanaan politik dalam negeri dan luar negeri. Masyarakat pada saat itu
terbagi atas masyarakat kelas atas (raja dan bangsawan) dan kelas bawah
(masyarakat biasa).
Ketika KenAarok berkuasa, dia
berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya.Namun banyak daerah daerah yang bergabung ke Tumapel . Pada
pemerintahan Anusapati,
kehidupan sosial masyarakatnya kurang mendapat perhatian. Pada pemerintahan Wisnuwardana kehidupan
sosial masyarakat singhasari
tertata rapi
Sumber
ekonomi Kerajaan Singhasari tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri
asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat
Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari
berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari
banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga
didukung oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegara
memperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas
perdagangan. Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan
sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia
luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan
perekonomian Kerajaan Singasari.
4.
Bidang Arsitektur dan Bangunan
Dalam
bidang seni bangunan terlihat jelas bahwa bangsa Indonesia telah melakukan
modifikasi dan penyesuaian terhadap tradisi seni bangunan India. Mereka memang
belajar dari seni bangunan India seperti dalam seni bangunan candi. Namun,
dalam pelaksanaannya, para seniman Indonesia hanya menggunakan dasar-dasar
teoritis seperti tercantum dalam Silpasastra atau pedoman dasar dalam pembuatan
candi. Dalam pelaksanaan pembangunannya, mereka menggunakan selera setempat
yang disesuaikan dengan corak Indonesia. Dalam candi Borobudur yang bercorak
Budha dan yang bercorak Hindu di Jawa Tengah terlihat begitu kuatnya pengaruh
lokal.
Salah
satu faktor terpenting yang menyebabkan tidak semua budaya India diserap oleh
bangsa Indonesia adalah telah dimilikinya local genius atau kepandaian
setempat. Dengan local genius, bangsa Indonesia mampu menyeleksi pengaruh
budaya India dan disesuaikan dengan kondisi setempat.
Bangsa
Indonesia yang terbuka terhadap pengaruh asing memang banyak belajar dari
kebudayaan luar. Namun, aplikasinya disesuaikan dengan kebutuhan. Mereka telah
bertindak selektif dalam menyerap budaya luar. Dengan demikian, corak
kebudayaan Indonesia asli masih terlihat baik dalam perkembangan maupun dalam
proses penyuburannya.
Bangunan-bangunan
kerajaan Singhasari:
Ø Candi
Singhasari
Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak
pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan
penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang
bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat
"pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang
mangkat(meninggal) pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang
yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai
dibangun
Ø Candi Jago
Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini
cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita
setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra
dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas
bahan batu andesit
Ø Candi Jawi
Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan -
Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat
pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat
pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara.
Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini
ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja
Kertanegara.
Ø Candi Kidal
Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi
ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua
dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian
Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan
Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.
Ø Candi
Sumberawan
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur.
Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan
Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di
sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang
sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan
5.
Bidang Seni
Gambaran
perkembangan kebudayaan sejak berdirinya kerajaan Singosari terlihat dari di
temukannya peninggalan berupa candi – candi dan patung yang di bangun dari
zaman kekuasaan Singosari. Diantaranya seperti candi Kidal, Jago, dan candi Singosari.
Sedangkan patung yang di temukan adalah patung Ken Dedes sebagai dewi
Prajnaparamita lambing kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam bentuk Joko
Dolok yang di temuksn dekat Surabaya dan patung Amoghapasa juga perwujudan dari
raja Kertanegara yang dikirim ke Dharmacraya ibu kota kerajaan Melayu. Kedua
perwujudan patung tersebut dapat di ketahui bahwa raja Kertanegara beragama
Budha beraliran Tantrayana (Tantriisme).
v Arca Dwarapala
Arca
ini berbentuk Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs
sejarah ini, arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun
hingga saat ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.
v Prasasti
Manjasuri
Prasasti
Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca
Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago dan sekarang
tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
v Prasasti Mula
Malurung
Prasasti
Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa
Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan
tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di
Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.
Kumpulan
lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda.
Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa
Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak
penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan
lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
v Prasasti
Singhasari
Prasasti
Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten
Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara
Jawa. Prasasti
ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang
dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan
pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda
angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara
pembangunan sebuah caitya.
v Prasasti Wurare
Prasasti
Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca
Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut
Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211
Saka atau 21 November 1289. Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang
bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya
telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya
ditulis melingkar pada bagian bawahnya.
6.
Bidang Sastra
Ada 3 Kitab
yaitu:
1) Kitab Pararaton
Kitab
ini berisi cerita mitos daririwayat Ken Arok yang penuh keajaiban hingga
riwayat raja-raja Singasari.
2) Kitab Negarakertagama
Kitab
ini merupakan karya Mpu Prapanca (1365) yang berisi perkembangan kehidupan
kerajaan Majapahit dan memuat pula raja yang berkuasa di Singasari.
3) Kidung Harsawijaya
Kidung
ini menyebutkan raja Jayakatwang sebagai samantharaja (raja bawahan) yang patuh
kepada Kertanegara. Namun dalam perkembangannya, Jayakatwang pada akhirnya
menyerang kedudukan Kertanegara.
7.
Bidang Bahasa dan Aksara
Dalam perkembangnya, huruf dan bahasa yang digunakan pada masa Kerajaan
Singhasari adalah Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta
8.
Bidang Pendidikan
Pada zaman ini sudah berkembang pendidikan dengan lembaga-lembaga yang
dengan sengaja dibuat secara formal. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut
berbentuk perguruan yang lebih dikenal dnegan sebutan pesantren. Pada saat itu
mutu pendidikan cukup memuaskan berbagai pihak yang bersangkutan. Pendidikan
pada zaman ini melalui penyebaran agama yang pada waktu dulu belum ada
sekolah-sekolah yang kita lihat sekarang ini. Pendidikan dulu dengan sekarang
sangatlah berbeda sekali. Dulu para biarawan maupun ulama menjadi guru itu
tanpa di kasih imbalan dunawi. Mereka juga mendapatkan pendidikan dari
keluarganya juga, kalau keluarganya ahli petani maka anaknya akan belajar dari
seorang ayahnya dan ilmu yang di perolehnya juga hanya untuk anaknya saja.
Mereka belajar keterampilan, kesatriaan dan sebagainya. Anaknya seorang raja
mempunyai tempat tersendiri untuk belajar yang disebut dengan Pura, sejauh ini
putra-putrinya belajar tentang ilmu tata kenegaraan, sopan santun dan ilmu bela
diri. Materi yang diajarkan bukan hanya bersifat umum tapi mempelajari
ilmu-ilmu yang bersifat spiritual religious juga.
Murid juga dapat berpindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya untuk
belajar. Kini pendidikan semakin tua seperti usia manusia. Khusus
untuk materi keterampilan ini biasannya diselenggarakan secara turun
temurun melalui jalur kastanya masing-masing seperti keterampilan bermain
pedang, berperang, berpanah, menunggang kuda dan seni pahat. Menjelang jatuhnya
kerajaan Hindu, pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dipegang oleh kaum
ulama.
Lembaga Pendidikan
1. Padepokan atau Pecatrikan
yang merupakan tempat berkumpulnya
para catrik, yaitu murid-murid yang belajar kepada guru disuatu tempat,
sehingga disebut pecatrikan dan dengan nama lain biasa juga disebut padepokan.
Dari kata-kata catrik dan pecatrikan itulah muncul kata santri dan pesantren.
Dipesantren dan atau padepokan itulah berkumpul para murid, khususnya keturunan
Brahmana utnuk mempelajari segala macam pengetahuan yang bersumber dari kitab
suci ( Veda dan Upanishad bagi Hindu serta Tripitaka bagi Budha).
2. Pura merupakan tempat yang berada di
istana. Tempat ini diperuntukkan bagi putra-putri raja belajar. Mereka diberi
pelajaran yang berkaitan dengan hidup sopan santun sebagai keturunan raja yang
berbeda dengan masyarakat biasa. Mereka belajar tentang mengatur Negara, ilmu
bela diri baik secara fisik maupun secara batiniah.
3. Pertapaan, karena orang yang bertapa
dianggap telah memiliki pengetahuan kebatinan yang sangat tinggi. Oleh karena itu
para pertapa menjadi tempat bertanya tentang segala hal terutama berkaitan
dengan hal-hal yang gaib.
4. Pada waktu itu pendidikan keluarga juga ada sampai
sekarang juga tapi hanya pendidikan sebagai informal. Dalam keluargalah akan
terjadi partisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan orang tua yang dilakukan
anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
9.
Bidang Astronomi
Pada masa Kerajaan ini, ilmu astronomi yang
berkembang digunakan sebagai penghitung waktu panen. Masyarakat Singhasari yang
bergantung pada pertanian, membuat kalender untuk menghitung pergantian musim
dan waktu panen.
B.
Runtuhnya
Kerajaan Singhasari
Sebagai sebuah
kerajaan, perjalanan kerajaan Singasari bisa dikatakan berlangsung singkat. Hal
ini terkait dengan adanya sengketa yang terjadi dilingkup istana kerajaan yang
kental dengan nuansa perebutan kekuasaan. Pada saat itu Kerajaan Singasari
sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa. Akhirnya Kerajaan Singasari
mengalami keropos di bagian dalam.
Pada tahun 1292
terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu,
sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanegara sendiri. Dalam serangan itu
Kertanegara mati terbunuh. Setelah runtuhnya Singasari, Jayakatwang menjadi
raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singasari
pun berakhir.
C. Kesimpulan
Kerajaan
Singasari, adalah kerajaan yang awalnya adalah daerah Tumapel yang kemudian
berhasil membuat Kerajaan Kediri tunduk, dan dikuasai. Peninggalan-peninggalan
Kerajaan Singasari ini antara lain yaitu Candi Singosari, Candi Jago, Candi
Jawi, Candi Kidal dan Candi Sumberwarna. Kerajaan ini akhirnya dapat direbut
kembali oleh Kerajaan Kediri yang memanfaatkan kasus penyerangan pasukan
Kubilaikhan ke Kerajaan ini. Penyebab runtuhnya kerjaan ini yaitu karena Raja
Kertanegara sedang mengadakan pesta pora, sehingga Istana kerajaan singasari
dalam keadaan lemah. Hal ini dimanfaatkan oleh Jayakatwang untuk meyerbu
istana. Pasukan Raden Wijaya pun berhasil membunuh Kertanegara lalu melarikan
diri. Lalu Raden Wijaya menggantikan Kerajaan Singhasari dengan Kerajaan
Majapahit.