Cinta? Apa sih cinta itu? Perasaan yang mempunyai sejuta rasa? Perasaan yang membuat seseorang menangis dan tertawa di waktu yang sama? Perasaan yang datang dengan lambat dan pergi begitu cepat? Bumerang bagi para penjaga cinta tersebut? Apa sih yang ada dipikiran kalian semua tentang cinta? Aku terlalu sulit mengartikan cinta, sehingga menurutku cinta hanyalah sebuah perasaan yang selalu memberikan kita sebuah pelajaran. Aku sudah muak dengan kata CINTA. Aku sadar di umurku yang baru menginjak remaja, belum tepat untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Namun kejadian dimulai saat aku bertemu dengannya.
Kala itu aku masih berumur 14 tahun. Usia yang masih belia untuk mengenal cinta. Namun, tak bisa dicegah karena aku memang sedang berada dalam masa puberku menuju dewasa. Dia mendekatiku secara pelan tapi pasti. Dia mencari tau semua tentangku melalui teman-teman terdekatku. Hingga pada saatnya, dia menyatakan perasaannya untukku. Bagaimana bisa? Dia hanya membutuhkan waktu 4 hari untuk ini semua. Aku? Sangat sangat kaget dengan pernyataannya yang menurutku terlalu cepat. Bahkan kami belum saling mengenal, kami hanya saling tau. Dan hanya itu yang menjadi modal dia menyatakan perasaannya padaku. Aku yang bingung akan perasaanku sendiri akhirnya memutuskan mencoba menjalin hubungan dengannya. Ingat hanya 'mencoba' bukan mengiyakan ajakannya. Karna aku bukan termasuk orang yang mudah jatuh cinta. Untuk suka pada seseorang saja aku membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi cinta. Tapi apa salahnya aku memberikan dia sebuah kesempatan?
Setelah kejadian itu, dia bersikap sangat baik padaku, hingga aku berfikit bahwa dia benar-benar mencintaiku. Dan tanpa aku sadari, ada perasaan yang masuk ke dada ini dengan seenaknya, membuatku tak ingin kehilangannya. Hari demi hari berlalu, hariku mungkin menjadi lebih hidup karna semua perlakuan dia padaku yang membuatku merasa menjadi manusia paling bahagia karna memilikinya.
Hingga pada bulan kedua semenjak aku menerima dia sebagai kekasihku, dia mulai terlihat sifat aslinya. Sifat yang sangat berbeda 360 derajat dengan yang selama ini aku tau. Dan untuk pertama kalinya dia membuatku menangis. Membuat dadaku sangat sesak dengan berbagai macam pertanyaan yang terus memutar di otakku. Bagaimana bisa dia seperti ini? Apa sikap manisnya selama ini hanya untuk menutup semua ini? Karna tanpa sepengetahuanku, dia dekat dengan seseorang di masa lalunya kembali, dan mereka 'katanya masih saling menyayangi' itu informasi yang aku dapatkan dari temannya. Dan ucapan itu menjadi pedang tajam yang dengan teganya menusuk hati ini secara ganas. Mengapa disaat aku sudah mempercayainya, menyayanginya, dia justru melakukan semua ini? Pertahananku runtuh sampai akhirnya aku memilih untuk tidak menghubungi dia dahulu, sampai aku bisa tenang dan berfikir jernih, dan memikirkan kelanjutan dari hubungan ini. Dia selalu menghubungiku tapi tak pernah ku gubris. Aku masih ingat semua penghianatan dia padaku. Setelah berhari-hari keadaan hatiku mulai membaik, aku membangun pertahananku lagi dari awal untuk bertemu dengannya, karna katanya dia ingin menjelaskan semua ini dan meminta maaf. Dan dengan bodohnya karna aku terlalu tulus dan tak ingin kehilangannya, pada saat ia meminta maaf aku lansung memaafkannya. Semua berjalan lagi seperti biasa. Namun sepertinya cinta tak berpihak kepadaku, semenjak kejadian penghianatan itu, dia tidak kapok sama sekali bahkan dia melakukannya-lagi dan meminta maaf-lagi, seperti itu terus-menerus bagaikan siklus yang tidak menemui ujung. Dan akhirnya dia memutuskanku dengan alasan 'kamu terlalu baik buat aku'. Bukan pedang lagi yang menusuk tapi semua itu bagaikan bom yang sudah ia pasang dan ialah si pengendalinya. Aku bisa apa? Memohon? Sepertinya itu hal yang sangat bodoh untuk aku lakukan. Aku mencoba terbiasa akan ketidakhadiran dia di hidupku lagi. Toh sebelum ada diapun hidupku baik-baik saja. Dan aku berhasil menata hidupku kembali dan menjalaninya seperti biasa lagi.
Disaat hidupku sudah normal, si penghianat itu datang lagi dan memohon untuk meminta kesempatan lagi memperbaiki semuanya. Semua rayuan dia keluarkan untuk membujukku. Aku tau walaupun aku berhasil menjalani hidupku seperti sebelum mengenalnya, hati ini tak bisa berbohong, perasaan ini masih sama setelah berkali-kali dihancurkan oleh serangkaian kejadian itu. Dan dengan polosnya aku menerimanya lagi. Teman-teman dekatku sangat marah padaku karna keputusan bodoh itu. Mereka sangat tahu bagaimana terpuruknya aku saat laki-laki itu menghancurkan kepercayaanku. Tapi aku tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia mengulangi kesalahannya lagi ditambah sifatnya yang sangat egois dan emosional membuatku semakin jenuh sekali dan sakit akibat perbuatannya. Hubungan kami berjalan tidak seperti orang yang pacaran. Setiap hari kami bertengkar hanya karna hal yang sangat sepele. Aku capek! Aku muak! Aku ingin mengakhiri semua ini demi hatiku. Janjinya untuk berubah itu hanyalah omong kosong belaka. Tak ada yang berubah darinya. Dia malah semakin parah. Menyakitiku dengan berbagai cara. Hati ini lebih hancur dan bisa dibilang sangat hancur. Kepercayaan padanya sudah tidak ada lagi. Kekecawaan sangat besar padanya.Tapi ada satu hal yang membuatku bingung. Dia tetap tidak ingin melepaskanku, bagaikan elang yang mencengkram mangsanya sangat kuat. Hingga aku sudah mencapai titik puncak dari kesakitan ini. Aku memilih bertemu dengannya setelah menghindarinya beberapa bulan. Ini semua aku lakukan semata-mata hanya ingin mengetahui perasaanku sebenarnnya pada dia. Dan sampai akhirnya aku mendapat jawabannya. Aku memang menyayanginya tapi aku lebih menyayangi hatiku sendiri. Aku memang tak ingin kehilangannya tapi untuk apa juga aku mempertahankan seseorang yang tidak menghargaiku? Dan keputusanku sudah bulat aku akan pergi dari hidupnya. Dalam pertemuan singkat itu, aku memberanikan diri mengeluarkan semua uneg-uneg ku padanya dan memberitahukan keputusanku. Setelah selesai aku memberi dia kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Namun, satu hal yang membuatku bingung. Dia tidak menerima keputusanku yang ingin menjalani hidupku sendiri. Dengan sisa kesabaran yang ada tanpa emosi sedikitpun, aku menjelaskan lagi padanya, berharap ia mengerti dan mau menerima. Sia-sia. Dia tetap tidak mau mengerti dan keras kepala. Emosi yang aku redam sedari tadi langsung pecah. Dan dia hanya diam. Aku menjelaskannya lagi dengan sabar. Bukan aku tidak menyayanginya tapi aku juga hanya ingin menyelamatkan hatiku sebelum benar-benar hancur. Memulai kehidupan baruku, tanpa dia. Membuka lembaran baru tanpa dihantui rasa sakit. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa, dia menerima keputusanku. Lega. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku bisa kembali lagi tersenyum tanpa beban walau sisa-sisa sakit itu masih ada. Aku bisa kembali bahagia walau hanya bersama sahabat-sahabatku. Itu semua sudah cukup bagiku, daripada aku harus tetap bersamanya namun tidak bahagia.
Hanya ada satu hal yang aku pikirkan tentang cinta saat ini. Salahkan bila aku merasakan jatuh cinta? Mengapa cinta yang aku percayai selalu menyakitiku? Sehingga aku sering terluka karna cintaku sendiri. Apa karna aku mengenal cinta terlalu cepat? Sehingga cintapun menyakitiku lebih cepat. Apa cinta tega menyakiti seorang gadis yang sudah susah payah mempertahankan cintanya? Kapan cinta berpihak padaku? Kapan aku bisa merasakan cinta dari seorang yang juga mencintaiku? Pertanyaan terus berkembang biak di otakku. Dan tak ada yang bisa menjawabnya. Waktu. Hanya waktu yang tau semua itu. Dan takdir. Biarlah takdir yang menjawabnya. Yang harus aku lakukan sekarang adalah bersyukur dengan segala yang aku punya. Tak perlu banyak mengeluh. Karna bila waktunya tiba, aku juga akan menemukan kebahagiaanku yang sesungguhnya..
========
No comments:
Post a Comment